Minggu, 26 April 2020

Kelangkaan SDA

Kelangkaan Sumber Daya Alam (SDA)


A. Macam fenomena kelangkaan sumber daya alam di Indonesia dan dampaknya terhadap kesejahteraan.
  1. Kelangkaan bahan bakar minyak.
     Kelangkaan bahan bakar minyak adalah fenomena yang membuat masyarakat menjadi khawatir, otomatis membuat harga minyak naik yang akan berdampak tidak bisa menggunakan kendaraan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari, dan sektor perdagangan akan lumpuh dengan seiring waktu.  Harga barang-barang kebutuhan pokok juga ikut naik.

   2. Kelangkaan beras.

  Kelangkaan beras adalah fenomena yang juga membuat masyarakat khawatir karena beras juga merupakan bahan pokok, masyarakat takut jika tidak beli sekarang maka beras nya tidak ada lagi sehingga banyak nya orang yang menimbun yang akan berdampak buruk bagi ekonomi rendah dan harga beras melonjak naik.

   3. Kelangkaan air bersih.

   Kelangkaan air bersih adalah minimnya jumlah air yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan di daratan tinggi akibat musim kemarau dan ketidak merataan aliran sumber air bersih. Dampak yang ditimbulkan dari kelangkaan sumber air bersih di Indonesia bagi kesehatan bisa terjadinya penyakit kulit seperti diare, cacingan. Penyakit yang ditimbulkan karena mengkonsumsi air yang kurang bersih.

   
B. Macam isu atau masalah sumber daya alam dan lingkungan di Indonesia.

1.  Penurunan Kualitas Air Sungai Kapuas di Pontianak.
      Kualitas air Sungai Kapuas telah tercemar secara fisika, kimia, dan biologi. Tercemarnya perairan Sungai Kapuas tersebut disebabkan oleh adanya berbagai macam aktivitas kegiatan seperti kegiatan dosmetik, transportasi laut (kapal nelayan dan kapal angkutan), industri dan kegiatan penambangan emas tanpa izin dari daerah perhuluan yang bermuara ke Sungai Kapuas. Nilai konsentrasi merkuri (Hg) berkisar antara 16,41 - 27,01 ppb yang terdapat pada semua stasiun pengamatan. Dalam hubungannya dengan pencemaran air sungai, aliran air mempunyai peranaan yang sangat penting, karena aliran air (baik dalam bentuk aliran permukaan maupun aliran bawah permukaan) merupakan agen/media utama pengangkutan, pemindahan dan penyebaran bahan-bahan pencemar. Pencemaran di daerah aliran sungai selain ditentukan oleh jumlah bahan pencemar, juga sangat dipengaruhi  oleh seberapa besar persentase air yang jatuh dalam daerah aliran sungai yang berubah. Oleh karena itu, diperkirakan pada stasiun muara Jungkat merupakan daerah bertemunya arus Sungai Kapuas sehingga terjadinya akumulasi penumpukan limbah cair/zat beracun yang berasal dari kegiatan yang terdapat pada bagian hulu sungai ke bagian hilir sungai kapuas di Kota Pontianak.
   Berdasarkan hasil pemantauan kualitas air sungai kapuas yang dilakukan oleh Bapedalda Provinsi Kalimantan Barat tahun 2003-2005 menunjukan terjadinya peningkatan konsertasi beberapa parameter kualitas air sungai kapuas. Patameter kualitas air yang telah melebihi baku mutu antara lain fisik (TDS dan TSS), Kimia (Nitrat, Nitrit, Ammoniak, Total fosfat, BOD dan COD) dan Biologi (Coliform dan Colitinja).
     Upaya yang akan dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Barat  untuk mengatasi pencemaran sungai  kapuas  adalah dengan penguatan kelembagaan instansi lingkungan hidup  sebagai koordinator pelaksanaan kegiatan dan program di kawasan sungai kapuas.

2. Kasus Kebakaran Hutan yang menyebabkan polusi udara.
     Masalah kebakaran hutan telah menjadi isu nasional yang terjadi setiap tahun, khusus nya Kalimantan. Kasus kebakaran hutan ini mengangu baik dari sudut pandang sosial maupun ekonomi. Banyaknya perusahan-perusahaan  yang tidak memperdulikan dampak dari kasus kebakaran yang mengakibat kan banyak nya polusi udara semakin meningkat. Waktu terjadinya kebakaran hutan umumnya terjadi sekitar bulan Juni sampai bulan Agustus, karena bulan tersebut  musim kemarau telah tiba. Kasus kebakaran hutan menyebabkan gangguan di berbagai penyaki segi kehidupan masyarakat, terbunuhnya satwa liar seperti hewan yang berada di hutan karena terjebak nya asap atau rusaknya habitat hutan.
  Upaya yang dilakukan untuk mengurangi kasus kebakaran hutan ini dengan cara bersosialiasi terhadap perusahan atau masyarakat kalau kebakaran hutan akan berdampak merugikan lingkungan dan kesehatan.

3. Permasalahan sampah di perkotaan.
   Permasalahan pencemaran akibat dari pembuangan sampah dan kurang nya ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan. Permasalahan sampah disebabkan oleh masih terbatas nya infrastruktur pengelolaan persampahan dan masih banyak pemukiman yang tidak terlayani dinas kebersihan sehingga masyarakat membuat sampah ke sungai, parit, pingir jalan, dll.
  Perkiraan timbunan sampah yang berasal dari sampah rumah tangga, pasar-pasar dan pabrik. Untuk membuang sampah di dinas kebersihan kota. Permasalahan sampah tidak tuntas hanya diangkut ke tempat pembuangan akhir, maka lama kelamaan sampah menjadi menumpuk.
  Untuk itu pemerintah harus melakukan pengelolaan sampah agar menjadi bahan yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi dengan cara mendaur ulang sampah.  Ruang terbuka hijau di perkotaan lebih kurang hanya

C. Jenis-jenis konflik sumber daya yang telah terjadi dan mungkin akan terjadi di Indonesia.

1. Konflik ketidaksepakatan dan perselisihan mengenai  akses,  kendali, dan permanfaatan sumber daya alam.
Konflik sumber daya alam yang menyebabkan korban jiwa, kembali di Indonesia, Kabupaten Lumajang. Konflik terjadi karena latar belakang dalam wilayah sama yang persediaan nya terbatas. Cara mendapatkan sda hanya untuk kepentingan pribadi, yang membawa salah satu pihak memaksakan kehendak dengan menggunakan agama, asal daerah, bahasa, ras  dan sejenisnya (Saptorno, 2002 : 19). Kasus ini diawali dengan adanya penambangan pasir ilegal di Pantai Watu Pecak terletak  di desa Selok Awar-awar, kecamatan Pasirian, 18 Km arah selatan dari Kota Lumajang. Kasus ini mencuat setelah terjadinya penganiayaan terhadap dua aktivis anti-tambang Salim yang dikenal dengan Salim Kancil dan Tosan. Salim kemudian meninggal dan Tosan mengalami luka parah, pada tanggal 26 September 2015.

2. Konflik Indonesia-Cina di perairan Zona Ekonomi Ekslusif Kepulauan Natuna.
  Konflik kepulauan Natuna, kapal-kapal nelayan Cina nampak tak gentar keluar masuk meski klaim Indonesia atas ZEE Kepulauan Natuna  didasarkan pada Konvensi PBB tentang Hukum Laut. Pontesi sumber daya kelautan dan perikanan, Provinsi Kepulauan Riau, tahun 2011, potensi ikan laut Natuna mencapai 504.212,85 ton per tahun. Angka itu hampir 50 persen dari potensi Wilayah Pengelolaan Perikanan atau WPP 711 yang menyentuh 1.143.341 ton per tahun.
  Kekayaan sumber daya laut itu terkonfirmasi dalam putusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. KKP mencatat laut Natuna dipenuhi berbagai jenis ikan, udang, cumi-cumi, kepiting, lobster, dll.
   Sesuai ketentuan UNCLOS, negara yang memiliki hak atas ZEE berhak memanfaatkan sumber daya alam sampai ke dasar laut terutama terdapat kandungan migas.
 Berdasarkan hukum laut Internasional, berbagai negara memang bebas melakukan pelayaran terlepas suatu laut sudah dimiliki atau masih bestatus sangketa. Jika tak masuk sebagai ZEE maupun menjadi hak Indonesia, mudah saja laut itu dimanfaatkan oleh berbagai kapal dari negara-negara yang melewatinya.

D. Bagaimana perubahan iklim berdampak pada sumber daya alam di wilayah terestial maupun pesisir.

Perubahan iklim sangat berdampak pada sumber daya alam di kawasan terestial maupun pesisir, dampak tersebut akan mengakibatkan terjadinya kenaikan permukaan air laut sampai kenaikan gelombang pasang yang akan menyulitkan para nelayan  yang harus mencari ikan menggunakan perahu tradisional dan spesies tanaman & hewan terancam punah.

E. Tujuan SDGs yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

SDGs (Sustainable Development Goals) memiliki tujuan yang berkaitan dengan pengelolaan  sda yang berkelanjutan, antara lain :
1. Menghilangkan  berbagai kemiskinan.
Tujuan nya ialah masyarakat penduduk miskin harus lebih diperhatikan, pelayanan dasar, pelayanan kesehatan, dan intinya semua masyarakat harus memiliki hak yang sama terhadap segala akses pelayanan. Contoh nya mengenai air, hal tersebut sangat berdampak besar dalam kehidupan dan kesehatan masyarakat.

2. Meningkat kan ketahanan pangan, gizi yang baik, dan meningkat kan pertanian yang berkelanjutan.
Masyarakat harus mampu memperoleh makanan yang aman demi angka kecukupan gizi masyarakat. Penyedian sekolah dan layanan kesehatan harus mensosialisasikan tentang gizi yang baik untuk masyarakat, sehingga meningkat kan kecukupan gizi pada masyarakat.

3. Penyerapan tenaga penuh dan kesempatan kerja yang produktif demi meningkat kan taraf ekonomi masyarakat.
Masyarakat kalangan bawah diharapkan memperoleh pendidikan yang optimal sehingga memperoleh pekerjaan yang layak, tidak hanya kalangan atas yang memperoleh pendidikan. Oleh karena itu harusnya diperlakukan pengembangan pendidikan terhadap masyarakat kalangan bawah, sehingga mencapai taraf ekonomi yang baik.

Kamis, 23 April 2020

Kebakaran  Hutan dan Lahan
Masalah kebakaran hutan telah menjadi isu nasional yang patut mendapat kan perhatian serius dari pemerintah.  Kejadian ini terjadi setiap tahun secara berulang, khususnya di Kalimantan.  Bencana kebakaran hutan dan lahan sudah semakin menggangu, baik ditinjau dari sudut pandang sosial maupun ekonomi.  Perlu dipahami bahwa, instansi pemerintah dan masyarakat, termasuk petani, perusahaan-perusahaan perkebunan dan perumahan, merupakan mata rantai yang tidak terputus yang terkait langsung dengan kebakaran hutan dan lahan ini. Penyebab kebakaran hutan dan lahan berhubungan langsung dengan perilaku manusia yang menginginkan percepatan penyiapan lahan untuk persiapan penanaman komoditas perkebunan dan perusahaan perumahan. Para pihak yang berkepentingan ingin segera menyiapkan lahan dengan biaya yang serendah-rendah nya.
Kebakaran adalah kegiatan yang menyebabkan adanya api dan asap pada suatu kawasan dengan secara sengaja seperti membakar hasil tebasan pada pembukaan lahan baru. Waktu terjadinya kebakaran umumnya terjadi pada bulan Juni sampai dengan Agustus, sedangkan pada bulan September titik api sudah mulai berkurang, karena hujan sudah mulai turun. Beberapa alasan mengapa terjadinya kebakaran pada rentang bulan tesebut : a). Masyarakat sudah selesai melakukan penebasan semak yang biasanya dilakukan selama sekitar 40 hari, yaitu sekitar bulan April dan Mei, dan sejak bulan Juni semak yang ditebas sudah mengering, b). Pada periode tersebut sedang terjadu kemarau yang sangat terik dan panas, sehingga mendorong masyarakat untuk membakar rumput/semak yang sudah ditebas sebelumnya,      c). Jika pembakaran sudah dimulai, maka terjadilah rentetan kebakaran yang tidak diharapkan dan sering kali tidak terkendali terutama pada lahan-lahan yang kepemilikanya tidak terdata atau pemiliknya bertempat tinggal di luar kota.
Faktor-faktor pendorong yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan adalah :
Kurangnya kesadaran masyarakat, petani, dan perusahaan akan adanya eksternalitas emisi asap dan kebakaran hutan yang tidak terkendali.
Tidak tersedianya teknologi alternatif untuk pembersihan dan pembukaan lahan terutama pada semak yang ditumbuhi sejenis “pakis” yang perakaranya sulit lapuk.
Adanya pendorongan melakukan pembakaran karena alasan ekonomi, bahwa dengan tidak tesediaanya   modal, maka cara yang paling mudah dan cepat untuk menyiapkan lahan.
Rendahnya atau tidak adanya penegak hukum yang tegas terhadap orang yang membakar lahan dengan sengaja dan tidak bertangung jawab atas terjadinya kabut asap.
Kebakaran hutan menimbulkan dampak positif dan negatif, tetapi kebakaran hutan selalu meninggalkan dampak negatif bagi ekosistem baik pada manusia, hewan, dan tumbuhan.  Dampak negatif yang ditimbul kan dari kebakaran hutan dan lahan :
Menyebabkan emisi gas karbon dioksida ke atmosfer.
 Terbunuhnya satwa liar dan musnah nya tanaman baik karena kebakaran, terjebak asap atau rusaknya habitat. Kebakaran juga dapat menyebabkan banyak spesies daerah turut punah sebelum sempat dikenali.
Kekeringan yang timbulkan dapat menyebabkan terhambatnya jalur pengangkutan lewat sungai dan menyebabkan kelaparan di daerah-daerah terperinci.
Kekeringan juga akan mengurangi volume air waduk pada saat musim kemarau yang mengakibatkan terhentinya PLTA.
Asap yang ditimbulkan menyebabkan gangguan pernafasan seperti penyakit paru-paru, polusi asap ini akan  menambah para penyakit pada penderita TBC dan Asma.
Musnahnya bahan baku industri perkayuan, ini bisa menyebabkan perusahaan perkayuan terpaksa di tutup karena kurang nya bahan baku.
Asap juga menyebabkan gangguan di berbagai segi kehidupan masyarakat. Aktifitas bisa lumpuh total akibat kebakaran hutan.
Dampak positif yang yang ditimbulkan kebakaran hutan dan lahan :
Sisa abu kebakaran tersebut bisa dijadikan pupuk kompos.
Memberi kesempatan kepada vegetasi baru untuk bisa tumbuh.
Membuka lahan pertanian dan Perusahan seperti ( sawit, padi, membuat perumahan).
 Membuka  tempat pada matahari